Ad Astra Per Aspera (a.k.a. Afu’s Unabridged Guide of What You Need to Know Before Applying to Harvard: FAQ)

Alright. This is happening.

Kalau teman-teman mengikuti saya di Instagram, kemungkinan besar kalian sudah tahu bahwa saya tidak terlalu senang ketika identitas utama saya diakarkan pada fakta bahwa saya lulus dari salah satu institusi pendidikan paling elit ini. Saya—seperti halnya semua orang—tiga-dimensi, tersusun oleh pemikiran, kata sifat, dan kata kerja yang perlahan-lahan membentuk ‘diri saya’. Karena itu, saya lebih suka menerima apresiasi untuk apa yang saya buat, tulis, atau ucapkan alih-alih nama alma mater.

Pada saat bersamaan, saya juga sadar ada rasa lapar yang tak terbendung di antara pemuda-pemuda Indonesia yang beberapa tahun belakangan ini terbangun dari tidur panjang dan mendadak sadar bahwa kita yang tidak terlahir dari keluarga kaya—dengan kerja keras dan beasiswa yang tepat—bisa juga menikmati pendidikan berkualitas di kampus-kampus terbaik dunia.

Look. I get it.

Karena itu, setelah puluhan (mungkin juga ratusan) kali ditanya, “Kak Afu, gimana caranya masuk Harvard?” saya putuskan untuk menulis blogpost ini sebagai upaya menjawab teman-teman dengan lebih terstruktur dan konsisten.

[Disclaimer: program yang saya ikuti adalah Master In Public Policy di Harvard Kennedy School jadi kemungkinan kurang menjawab untuk program dan sekolah lain.]

[May 24, 2018. One of the best days of my life.]

1. Start with the right mindset.

Frasa Latin yang saya gunakan sebagai judul tulisan ini berarti, “to the stars through difficulties“. Memang, untuk mendarat di antara bintang-bintang, kita seringkali harus melalui berbagai kesulitan.

But here’s the thing: Harvard is NEVER supposed to be your stars. At best, it’s a transit planet that would allow you to fly further, maybe twice as fast. That said, not everyone has to go through the same route—your aim should be much bigger than a transit planet.

Beberapa orang bertanya pada saya tentang apakah mereka harus ikut organisasi X alih-alih Y atau kerja di perusahaan A alih-alih Z agar bisa diterima di Harvard. Bukan jarang, ada yang mendeklarasikan diri ingin masuk Harvard bahkan sebelum tahu program apa yang ingin mereka pilih/yang ada di sana.

Ini cara berpikir yang keliru.

Salah satu alasan Harvard akan menerima orang-orang yang mereka terima—menurut saya—justru adalah karena mereka memiliki (atau setidaknya mulai mencari) raison d’etre alias tujuan jangka panjang yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Raison d’etre ini lah yang kemudian memandu keputusan-keputusan besar seperti memilih tempat bekerja atau kegiatan luar kampus, dan tercermin dalam CV/resume mereka. Nantinya, ‘bintang’ ini juga yang menjadi justifikasi untuk memilih kuliah di jurusan tersebut.

Raison d’etre ini bisa berbentuk sangat abstrak—misalnya melakukan ‘pelayanan publik’, atau ‘sektor pembangunan’ tanpa bidang spesifik—karena bagian dari sekolah bisa jadi menemukan astra yang lebih konkrit. Sedikit seperti ayam dan telur, tapi poin saya: see beyond the brand.

2. Know your shit.

Setelah astra teman-teman sudah sedikit lebih jelas terlihat, coba cari tahu kampus dan program mana yang akan membawamu ke sana. Jurusan yang saya ambil di Harvard Kennedy School, Master In Public Policy bisa jadi ada di mana-mana (termasuk di Berkeley atau Chicago), tapi tiap sekolah memiliki menu kuliah yang sangat berbeda-beda.

Beberapa informasi dasar yang mungkin membantu:

  • Harvard Kennedy School adalah sekolah profesional, bukan sekolah akademis. Karena itu, kebanyakan kelasnya bersifat praktis dan tidak teoretis. Tugas akhirnya pun berupa capstone project dalam bentuk analisis kebijakan publik dan bukan tesis master pada umumnya yang menjawab pertanyaan ilmiah.
  • Sekolah ini juga membanggakan diri sebagai rumah bagi para generalis yang ingin belajar sedikit-sedikit tentang banyak hal, alih-alih banyak hal tentang satu topik. Kalau ada spesialisasi, itu dilakukan berdasarkan konsentrasi dan topik tugas akhir yang dipilih (bagi para MPP). Karena itu aku terpapar mulai dari isu pembangunan, growth diagnostics, perubahan iklim, behavioral economics, sampai keamanan. Namun, keterampilan dasar yang dibangun tetap sama, yaitu analisis kebijakan publik—yang di dalamnya termasuk statistik dan econometrics, ilmu ekonomi, ilmu politik, negosiasi, serta kepemimpinan.
  • Program-program yang tersedia—mulai dari MPP, MPA, MC-MPA, MPA/ID sangat berbeda antar satu sama lain. Secara umum aku merasa bahwa jika teman-teman ingin kuat secara kuantitatif lebih baik pilih MPA/ID, kalau MPA lebih keterampilan kualitatif dan pemahaman isu, sedangkan MPP yang relatif berimbang di keduanya.

Two years is a long time to be away from your loved ones back home—make sure it’s for the right reason.

3. Have some work experience first.

Salah satu cara paling mudah untuk ‘menemukan’ raison d’etre kita adalah dengan memiliki pengalaman bekerja terlebih dahulu, paling tidak selama 1 tahun.

Ketika lulus dari jurusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia di tahun 2013, saya belum memiliki bayangan sama sekali untuk mengambil jurusan kebijakan publik. Baru setelah bekerja kurang lebih 1.5 tahun di sebuah lembaga riset, saya menemukan permasalahan kebijakan publik sebagai puzzle yang ingin saya pecahkan.

Beberapa pengecualian terhadap aturan ini: (1) jika teman-teman ingin menjadi seorang akademisi, (2) sudah punya pengalaman ‘dunia nyata’ karena bekerja selama kuliah, atau (3) alasan profesional atau pribadi lain yang menjadikan gelar master sangat penting.

Secara keseluruhan, pengalaman kerja sepertinya akan lebih menguntungkan teman-teman daripada kampusnya sendiri. Harvard Kennedy School sendiri tidak memiliki persyaratan tegas (hanya ‘disarankan’ punya pengalaman 3 tahun untuk program MPP, tapi saya punya teman yang langsung ke HKS setelah S1).

Namun, selain sebagai proses self discovery, pengalaman kerja juga memungkinkan teman-teman untuk berkontribusi lebih aktif dalam diskusi di kelas. Seringkali, diskusi yang dilakukan dapat diperkaya oleh pengalaman profesional para mahasiswanya. Kalau belum punya pengalaman kerja, takutnya teman-teman malah tidak bisa berpartisipasi dengan maksimal.

4. Do your research.

Setelah sering menerima pertanyaan terkait proses aplikasi, aku bisa mengkategorikan penanya ke dalam dua kelompok: (1) penanya dengan informed questions, dan (2) dengan pertanyaan malas.

Contoh pertanyaan malas: “Kok bisa masuk Harvard?” (Yang biasanya aku jawab dengan, “Karena daftar.” LOL.)

Contoh informed question—alias pertanyaan yang sudah spesifik karena dilandasi riset sebelumnya: “Di program MPP ada tugas akhir berupa capstone project dengan klien. Itu nanti cara mencari kliennya seperti apa?”

Riset awal menunjukkan bahwa kita cukup berkomitmen untuk menginvestasikan waktu ke dalam proses mencari tahu jawaban. Terkadang, jawaban yang teman-teman cari sudah ada versi lengkapnya di Google.

Percaya atau tidak, semua informasi terkait proses aplikasi yang saya lakukan sampai akhirnya diterima sumbernya dari Google, karena saya tidak kenal orang Indonesia yang diterima di Harvard Kennedy School sebelum saya.

So there you go.

5. Build a solid story arc.

Sebagai orang Indonesia (untuk saya lebih spesifik lagi—Sunda), kita dibesarkan di dalam budaya yang mengutamakan kerendahan hati. Sama sekali tidak ada yang salah dengan itu, namun kita sering mencampuradukkan kerendahan hati dengan rasa rendah diri.

Bagian penting dari aplikasi S2 ke sekolah di Amerika pada umumnya, adalah kemampuan ‘menjual diri’.

Almost literally.

We Indonesians have *not* been trained for this (not to mention the additional English-as-second-language handicap) so half of the battle is about finding that humble-yet-confident voice inside your head.

Setengahnya lagi adalah kemampuan membangun cerita yang koheren tentang ‘siapa kita’. Untuk melakukan ini kita perlu ‘menjebrengkan’ semua hal yang sudah kita lakukan dan capai di waktu lalu, untuk kemudian kita hubungkan sebagai satu cerita keseluruhan yang utuh.

Tentu, secanggih-canggihnya mengarang tidak akan membawa kemana-mana jika tidak ada ‘bahan’ yang bisa dipakai dalam membangun cerita tersebut. Karena itu, penting juga untuk kita ‘menabung’. Buatku yang bisa ditabung ada tiga hal—kredensial, jaringan, dan kapasitas, dan harus dimulai seawal mungkin. Lagi-lagi, proses menabung ini kalau bisa dilakukan karena raison d’etre tadi.

6. Strategize your test preparations.

Sampai di sini teman-teman sudah riset, menemukan program yang diinginkan, dan membangun cerita tentang diri sendiri yang siap dijual. Great.

Bad news, though. There’s still a couple of tests you need to pass: the GRE and TOEFL.

Berdasarkan pemahamanku, HKS tidak punya batas ambang spesifik yang menentukan teman-teman diterima atau tidak, karena setiap aplikasi dilihat sebagai suatu keseluruhan. Dengan kata lain, misalkan TOEFL atau GRE teman-teman kurang dikit, tetep bisa diterima asalkan kuat dari aspek lain misalnya CV atau surat rekomendasi.

Meskipun demikian, penting untuk menyiapkan diri kita sebaik-baiknya dalam menghadapi tes ini. Salah satu strategi yang bisa dipakai, berdasarkan pengalaman saya, adalah melakukan tes terhadap diri sendiri (dengan buku yang bisa dibeli di toko buku impor seperti Kinokuniya atau gratis secara online) untuk tahu di mana kita sudah jago dan di mana kita masih kurang.

Misalnya, bisa jadi teman-teman sudah kuat dalam bagian quantitative dari GRE tapi masih lemah di analytical writing. Lalu alokasikan waktu secukupnya (1-2 bulan?) untuk lebih banyak berlatih di kelemahan kita tersebut.

Baik juga untuk mengetahui seawal mungkin apakah teman-teman tipe belajar sendiri atau ramai-ramai. Sesuai dengan kebutuhan, teman-teman bisa bentuk kelompok belajar atau dengan investasi yang cukup besar (sayangnya), ikut kelas persiapan yang tersedia di Jakarta dan kota-kota lain.

7. Don’t pursue a recommendation letter from a famous person for the sake of it.

Aplikasi ke HKS membutuhkan tiga surat rekomendasi, dua dari atasan profesional dan satu dari pembimbing akademis atau skripsi kita ketika S1. Pada umumnya, surat rekomendasi menjadi tempat untuk memvalidasi klaim-klaim yang kita buat di dalam resume.

Perumpamaan lain yang sering aku pakai: kalau kita adalah rumah berdinding, setiap surat rekomendasi adalah jendela untuk melihat ke ‘dalam’ kepribadian kita. Sebisa mungkin, setiap jendela diposisikan di lokasi berbeda agar komite seleksi dapat melihat kita secara menyeluruh, dengan tetap memiliki benang merah yang sama.

Contohnya, kualitas yang ingin ditunjukkan adalah bahwa kita memiliki komitmen tinggi. Penulis rekomendasi A membicarakan komitmen kita di kantor, B di kampus, dan C di kegiatan kerelawanan.

Salah satu mitos terbesar tentang surat rekomendasi untuk keperluan aplikasi sekolah adalah bahwa semakin tinggi jabatan pemberi rekomendasi kita, semakin tinggi pula kesempatan kita diterima. Sehingga kadang aku temui kasus di mana seseorang meminta rekomendasi dari Menteri atau orang penting lain, meskipun baru membantu mereka sebagai penerjemah selama satu hari (which is cool, by the way, but your relationship isn’t intense enough to get you a robust story).

Prinsip umumnya: semakin dekat hubungan atau semakin lama kalian bekerja dengan pemberi rekomendasi, semakin baik. Jika ada dua orang yang kenal pada tingkat yang sama, maka semakin tinggi jabatannya semakin baik.

Kualitas dan intensitas hubungan profesional tersebut menjadi penting karena nantinya kredibilitas klaim dalam surat rekomendasi akan ditentukan oleh banyak-tidaknya ‘bukti’ dalam bentuk anekdot-anekdot nyata. Jadi semakin *personal* surat tersebut semakin baik.

Jika sang pemberi rekomendasi cukup terbuka, teman-teman bisa diskusikan elemen apa yang ingin ditekankan dalam masing-masing surat sehingga dapat tersinkronisasi dengan keseluruhan aplikasi.

8. Write shitty first drafts. Then have your confidants and/or mentors to review them.

Yang juga memakan banyak waktu adalah esai-esai (biasanya ada 1-4 dengan pertanyaan yang berbeda-beda). Kuncinya berasa di menulis draft pertamamu seawal mungkin, karena itu memungkinkan teman-teman untuk punya banyak waktu untuk melakukan revisi.

Penting juga untuk memiliki teman atau mentor yang dapat membaca dan memberikan masukan kepada draft awal teman-teman. Aku secara spesifik berhutang pada beberapa orang terdekat untuk hal ini.

Kadang, kita merasa malu atau protektif terhadap esai yang sangat personal. Karena itu aku juga tidak menyarankan untuk mengirim ke terlalu banyak orang, cukup 1-3. Perlu diingat bahwa ketertutupan itu juga akan menutup kesempatan untuk mengembangkan esai teman-teman untuk menjadi lebih baik lagi.

9. Take your time.

Finally, remember that everyone lives in their own time zone. Some people might do their master’s earlier than others but it doesn’t mean it would’ve been good for you. Maybe waiting longer means you can get more out of your study later.

Point is, there’s no use comparing yourself to others—but it’s generally a good practice to look at how far you’ve grown from your past self.

Sebagai referensi tambahan, aku ingin membagi beberapa tautan untuk mempelajari proses aplikasi Harvard Kennedy School lebih lanjut, serta organisasi Indonesia Mengglobal yang sudah memuat banyak sekali informasi:

Kalau ada tautan lain yang bisa berguna, ataupun pertanyaan lebih lanjut, silakan tinggalkan di kolom komentar di bawah.

I’ll stop here because I run out of points to make. If I think of anything else, I’ll update this post in the future.

Dengan ini, saya mengucapkan selamat dan semoga sukses untuk teman-teman yang, seperti saya dulu, mulai dengan ingin.

You’ll be surprised to find out where that willpower could take you.

Advertisements

Here’s to Not Being Stuck in the Hallway Forever

Remember that time when the only hard choice you needed to make was between ‘Paddle Pop Pelangi‘ vs. ‘Fantasy Anggur-Jeruk‘? No matter what you ended up with, there were almost zero consequences to the people around you—except for the rare occasions when you caught the flu.

I’m fully aware that what I’m about to talk about is going to sound ungrateful and borderline arrogant. You might say that being able to have a choice at all is already a massive privilege that some people could only imagine. But man, I will be lying if I say that the past two months had not been tormenting. That is, having to pick a path that will shape my long-term career trajectory. Basically, the first steps toward the ultimate destiny of how people will remember me.

Indeed, graduating from a generalist school opened dozens of doors—including some I didn’t even know existed. But with more doors, comes a humongous question of ‘what if’. Naturally, I made lists, tables, and talked to almost everyone I trust to get their perspectives. But the trade-off between choosing one career path over the other is too complicated; my head got so shaken up it led me to multiple emotional breakdowns.

Should I try out the private sector world for a bit or should I stay in the great organization that had brought me where I am? Should I enter the public sector now even though I will have to make some compromise? Or should I make a mediocre choice that does not really make me excited but at least does not have any red flag?

After 70 tiring, winding days of indecision, I’ve finally settled on a door. There had been some casualties on my way there—but it’s the door I opted. I knew I did not want to be stuck in an endless search or got stuck in the wrong place for short-term impulses. Maybe there never will be a perfect option. Now I just have to commit to my choice and deal with any repercussions that come with it.

If you’re one of the people affected by my confusion and hesitation in the past two months: I apologize. And if you’re one of the people who spent time and energy to talk to me: thank you. Not sure what mess I would have been without you.

Now I’m just excited about starting anew.

August 2016 was the month I ditched home to learn in a land of uncertainties, but I guess August 2018 will be the month I make peace with all the uncertainties that come with being at home. Wish me luck.

P. S. To understand the analogy of doors and hallways, watch this very relevant speech about ‘infinite browsing mode on Netflix’ by Pete Davis from the Harvard Law School during our commencement ceremony last May.

Semester 4

Manusia terbiasa melihat genap sebagai sepuluh, atau selusin. Tapi mengakhiri di angka empat seperti janggal. Mungkin itu sebabnya aku merasa ada yang belum tuntas dalam hubunganku dengan kampus, dalam upayaku membuat otak penuh. Alih-alih merasa lengkap, benak ini seperti diisi kekacauan-kekacauan yang belum terjawab.

Jika dulu aku titik koma, bukannya menjadi titik, sekarang aku malah menjelma menjadi tanda tanya.

Dalam salah satu kuliahnya, dosenku mengingatkan tentang paradoks ‘merasa tidak tahu’ sebagai indikasi ‘mengetahui’. Suatu ketibaan di pulau ‘ketidaktahuan yang diketahui’ (known unknown) yang tadinya cuma sebuah titik di kejauhan.

DIU3YeKXgAECpqt

Bukan ingin menyangkal bahwa aku memperoleh 1-2 pengetahuan baru—tentang bagaimana melakukan analisis ekonomi atau kebijakan publik, serta kemewahan memiliki bahasa untuk mengkomunikasikannya—tapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan yang masih kupusingkan tentang bias manusia dan betapa sulitnya mencapai kesepakatan yang menyenangkan kedua pihak di tengah perbedaan ideologi.

Sampai heran, bagaimana bisa aku sempat merasa terbebani oleh banyaknya ilmu pengetahuan yang kumiliki ketika sekarang menjadi jelas bahwa itu semua cuma ‘ilusi keahlian’.

Untungnya, sebagai penutup semester, dosenku yang lain menyampaikan (sambil setengah bercanda dan disadur sekenanya):

Harvard Kennedy School adalah institusi di mana orang-orang dengan ‘kelainan mental’ ingin menyelamatkan dunia berkumpul. Ketika pulang ke rumah masing-masing dengan gelar baru, sangat wajar jika kalian tergoda untuk menjadi orang yang terpintar di setiap ruangan, untuk selalu memiliki jawaban bagi setiap pertanyaan. Tapi kenyataannya, kalian tidak berada di situ selama berbulan-bulan ke belakang. Karenanya selama 1-2 bulan pertama, izinkan rasa ingin tahu kalian untuk memimpin jalan. Dengarkan suara-suara yang muncul. Izinkan kalian untuk lebih sering bertanya daripada menjawab.

Kuliah umum ini menjadi semacam resolusi untukku, dan aku bertekad untuk menahan diri dari dorongan-dorongan intelektual tersebut. Sejauh ini, aku sering gagal, tapi kutulis ini juga untuk kembali mengingatkan.

Belum lagi, aku merasa belum sepenuhnya mawas diri bahwa sekarang aku sudah kembali ke Indonesia. Badanku ada di sini, tapi entah bagaimana sebagian pikiranku masih merasa bahwa aku akan ‘pulang’ ke Cambridge. Mungkin itu pertanda bahwa aku akan kembali dalam waktu dekat. Mungkin juga, itu semacam penanda bahwa kota yang anginnya tidak kenal ampun itu sudah menjadi rumah permanen, terlepas di mana aku berada.

Kata orang, seharusnya aku mulai merasakan reverse culture shock—geram karena orang tidak mengantri, transportasi publik yang tidak nyaman, atau mobil yang tidak berhenti ketika hendak menyebrang di zebra cross sekalipun. Namun, perbedaan-perbedaan perilaku itu sepertinya tidak terlalu berarti untukku, jika dibandingkan dengan besarnya kerinduanku berada di ruang kelas dan mempelajari hal baru.

Perasaan tidak nyaman yang familiar ketika ingin mengangkat tangan untuk bertanya atau menawarkan perspektif tapi takut terdengar bodoh. Ketakutan sekaligus kehausan mendengar opini dan analisis cemerlang dari mereka yang usianya tidak jauh dariku.

Saking tidak ingin lupa, kadang aku memutar kembali sekelebat ingatan dari pengalamanku di sana. Aku seperti ingin meyakinkan diri bahwa itu bukan mimpi, bahwa aku benar-benar sudah melalui semua proses pembelajaran tersebut, dan bahwa itu semua akan menjadi bagian formatif dalam kepribadianku.

Pada saat bersamaan, semakin aku bertahan untuk tetap berada ‘di sana’, semakin lama pula perjalananku ‘di sini’ akan dimulai. Sepertinya, jika ingin maju, aku harus perlahan-lahan melepas genggamanku. Bukan karena menyerah, tapi karena percaya bahwa aku akan selalu bisa kembali. Bahwa komunitas yang sama (terutama teman-teman terdekatku) akan selalu ada ketika aku mulai menjelma menjadi orang yang tak kukenal, atau lupa akan tujuan akhirku.

So here I am, loosening my grip, trying to embrace the new chapter. Let’s see where this one takes me.

 

Semester 3

ED9BAEAC-1E04-4840-B7F7-032A6D35407D

(An unfinished post written 7 months ago—when my hair was still green.)

Being in graduate school has interfered with my sense of time. The 15 months that had passed since the last time I saw my friends and family at the airport felt like a very long dream that started just yesterday. But in a bizarre way, I’m also very conscious about the 400 days that I’ve spent away from home—almost obsessively trying to store as many new memories as possible in my mind keepsake.

Coming back to school as a second-year student had been a very distinct experience. I was stronger, more intelligent, and somewhat less affected by my environment. Not in an ignorant way, just more resilient. Having a support system, being someone’s support system, knowing what you like, understanding the pace you’re comfortable with. That kind of stuff.

One thing I learned: sometimes, it’s not about you. People have all sorts of baggage and biases. Every now and then, they dump it on you when you least expect it. Being raised as an Asianno, Sundanesewoman, it had been very tempting to think I was to blame. But more often than not, it’s really them.

I ended semester two with a sense of responsibilitywhat am I gonna do with all this overwhelming knowledge? This semester, however, had been a humbling journey where I realized this is not about solving all the problems. Not immediately, at least.

There’s so much more I need to learn and it feels like my time is tight, but isn’t learning is supposed to be lifelong?

The Bilingual’s Balancing Game

I was 16 when they sent me to compete in this Turkish language olympiad. At the end of our final training day, oğretmenim jokingly told me I wouldn’t be able to win unless I could dream in Turkish that night. I guess it would signal that my mind had stopped translating for me and instead started to think in the once-foreign language, designated it as the ‘primary’ one. The next morning, I woke up vaguely recalling our (short) Turkish conversation in my sleep, and a week later, I flew back from Istanbul carrying a gold medal.

I haven’t been dreaming much Turkish these days, but between Indonesian and English, I could sense that my mind has been struggling to figure out which channel it should let take over as the alpha.

I used to compartmentalize them into my ‘formal’ and ‘informal’ languages. English was simply a language for writing emails at work, for tweeting ideas, for presenting research findings, for thinking about complex frameworks that Indonesian does not have a word for. Meanwhile, my (obviously self-proclaimed) funnier personality was a lot more accessible in Indonesian—I could relax and make deadpan jokes all day long. It was not difficult for me to switch between one track to another; my environment would cue me in and like a chameleon, I would have eased my way into one track.

This line began to blur when I moved to the US and have to also use English to socialize with fellow students. Underneath all the interactions, my English brain has been stretching herself in an attempt to enter an unknown territory and transmit sentences I have never delivered in English before like, “Can’t believe winter is just around the corner!” or gossips about certain professors.

My first semester of graduate school, therefore, had been slightly more exhausting than I expected it to be. I talked to people but felt like I could not fully express myself, such that initiating friendship became futile. The struggle was so real I made myself read a spoken word poem entitled “To the Phantom Jokes that Never Got Out of My Mouth” in front of a school-wide talent show. The first sentence of that piece read, I wish people knew how funny I am in Indonesian.

(By the end of that semester I have made four close friends thanks to negotiation class’s final memo assignment and I have been much happier at school now that I have my support system, but that story deserves its own blogpost.)

I would say that I had been much better at ‘informal English’ today compared to 15 months ago—but it also means that my mind has been thinking a lot in English and I could sense that I would have a ‘reverse struggle’ going back to Indonesia. Not to mention that I had been studying all these cool new theories, frameworks, and concepts for public policy in English. Already, I could feel my brain muscle pulling itself to translate phrases like ‘administrative and political feasibility’ or ‘behavioral nudge’. While living with Wikan helps in maintaining my ‘informal Indonesian’, my English brain has become much smarter than my Indonesian brain, and I worry if she couldn’t catch up.

This winter break, I am going back to Indonesia to do field research for my final policy analysis, which would require me to talk to dozens of Indonesian officials and staff in local organizations. The way I see it, it could be the perfect training lab to help my mind’s Indonesian channel readjust before I come back to Indonesia for good in June. Wish me luck.

P. S. If you happen to be a subscriber to Frame & Sentences video essays (setengah #kode), you may notice that I had been primarily using English. Again, it’s not because I haven’t tried, but the few times that I did, it had always been a nightmare for me to try to convey the same ideas in Indonesian. (We literally have to take 5 times as many shots because I kept making mistakes.) I don’t think it’s because I don’t love my country etc., but because my mind couldn’t access the same depth of thought process in Indonesian. I am working towards changing it, but thank you for understanding. Hope the subtitles help!