Semester 4

Manusia terbiasa melihat genap sebagai sepuluh, atau selusin. Tapi mengakhiri di angka empat seperti janggal. Mungkin itu sebabnya aku merasa ada yang belum tuntas dalam hubunganku dengan kampus, dalam upayaku membuat otak penuh. Alih-alih merasa lengkap, benak ini seperti diisi kekacauan-kekacauan yang belum terjawab.

Jika dulu aku titik koma, bukannya menjadi titik, sekarang aku malah menjelma menjadi tanda tanya.

Dalam salah satu kuliahnya, dosenku mengingatkan tentang paradoks ‘merasa tidak tahu’ sebagai indikasi ‘mengetahui’. Suatu ketibaan di pulau ‘ketidaktahuan yang diketahui’ (known unknown) yang tadinya cuma sebuah titik di kejauhan.

DIU3YeKXgAECpqt

Bukan ingin menyangkal bahwa aku memperoleh 1-2 pengetahuan baru—tentang bagaimana melakukan analisis ekonomi atau kebijakan publik, serta kemewahan memiliki bahasa untuk mengkomunikasikannya—tapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan yang masih kupusingkan tentang bias manusia dan betapa sulitnya mencapai kesepakatan yang menyenangkan kedua pihak di tengah perbedaan ideologi.

Sampai heran, bagaimana bisa aku sempat merasa terbebani oleh banyaknya ilmu pengetahuan yang kumiliki ketika sekarang menjadi jelas bahwa itu semua cuma ‘ilusi keahlian’.

Untungnya, sebagai penutup semester, dosenku yang lain menyampaikan (sambil setengah bercanda dan disadur sekenanya):

Harvard Kennedy School adalah institusi di mana orang-orang dengan ‘kelainan mental’ ingin menyelamatkan dunia berkumpul. Ketika pulang ke rumah masing-masing dengan gelar baru, sangat wajar jika kalian tergoda untuk menjadi orang yang terpintar di setiap ruangan, untuk selalu memiliki jawaban bagi setiap pertanyaan. Tapi kenyataannya, kalian tidak berada di situ selama berbulan-bulan ke belakang. Karenanya selama 1-2 bulan pertama, izinkan rasa ingin tahu kalian untuk memimpin jalan. Dengarkan suara-suara yang muncul. Izinkan kalian untuk lebih sering bertanya daripada menjawab.

Kuliah umum ini menjadi semacam resolusi untukku, dan aku bertekad untuk menahan diri dari dorongan-dorongan intelektual tersebut. Sejauh ini, aku sering gagal, tapi kutulis ini juga untuk kembali mengingatkan.

Belum lagi, aku merasa belum sepenuhnya mawas diri bahwa sekarang aku sudah kembali ke Indonesia. Badanku ada di sini, tapi entah bagaimana sebagian pikiranku masih merasa bahwa aku akan ‘pulang’ ke Cambridge. Mungkin itu pertanda bahwa aku akan kembali dalam waktu dekat. Mungkin juga, itu semacam penanda bahwa kota yang anginnya tidak kenal ampun itu sudah menjadi rumah permanen, terlepas di mana aku berada.

Kata orang, seharusnya aku mulai merasakan reverse culture shock—geram karena orang tidak mengantri, transportasi publik yang tidak nyaman, atau mobil yang tidak berhenti ketika hendak menyebrang di zebra cross sekalipun. Namun, perbedaan-perbedaan perilaku itu sepertinya tidak terlalu berarti untukku, jika dibandingkan dengan besarnya kerinduanku berada di ruang kelas dan mempelajari hal baru.

Perasaan tidak nyaman yang familiar ketika ingin mengangkat tangan untuk bertanya atau menawarkan perspektif tapi takut terdengar bodoh. Ketakutan sekaligus kehausan mendengar opini dan analisis cemerlang dari mereka yang usianya tidak jauh dariku.

Saking tidak ingin lupa, kadang aku memutar kembali sekelebat ingatan dari pengalamanku di sana. Aku seperti ingin meyakinkan diri bahwa itu bukan mimpi, bahwa aku benar-benar sudah melalui semua proses pembelajaran tersebut, dan bahwa itu semua akan menjadi bagian formatif dalam kepribadianku.

Pada saat bersamaan, semakin aku bertahan untuk tetap berada ‘di sana’, semakin lama pula perjalananku ‘di sini’ akan dimulai. Sepertinya, jika ingin maju, aku harus perlahan-lahan melepas genggamanku. Bukan karena menyerah, tapi karena percaya bahwa aku akan selalu bisa kembali. Bahwa komunitas yang sama (terutama teman-teman terdekatku) akan selalu ada ketika aku mulai menjelma menjadi orang yang tak kukenal, atau lupa akan tujuan akhirku.

So here I am, loosening my grip, trying to embrace the new chapter. Let’s see where this one takes me.

 

Advertisements

Semester 3

ED9BAEAC-1E04-4840-B7F7-032A6D35407D

(An unfinished post written 7 months ago—when my hair was still green.)

Being in graduate school has interfered with my sense of time. The 15 months that had passed since the last time I saw my friends and family at the airport felt like a very long dream that started just yesterday. But in a bizarre way, I’m also very conscious about the 400 days that I’ve spent away from home—almost obsessively trying to store as many new memories as possible in my mind keepsake.

Coming back to school as a second-year student had been a very distinct experience. I was stronger, more intelligent, and somewhat less affected by my environment. Not in an ignorant way, just more resilient. Having a support system, being someone’s support system, knowing what you like, understanding the pace you’re comfortable with. That kind of stuff.

One thing I learned: sometimes, it’s not about you. People have all sorts of baggage and biases. Every now and then, they dump it on you when you least expect it. Being raised as an Asianno, Sundanesewoman, it had been very tempting to think I was to blame. But more often than not, it’s really them.

I ended semester two with a sense of responsibilitywhat am I gonna do with all this overwhelming knowledge? This semester, however, had been a humbling journey where I realized this is not about solving all the problems. Not immediately, at least.

There’s so much more I need to learn and it feels like my time is tight, but isn’t learning is supposed to be lifelong?