Tedjabayu dan Kami (1944-2021)

“Mbak, orang yang meminjamkan buku itu bodoh. Tapi Mbak tahu siapa yang lebih bodoh? Orang yang mengembalikan buku yang dia pinjam!”
Bapak being, well—himself.

Sebelum mengenal Bapak sebagai sosok yang Goenawan Mohamad sebut ‘tauladan gerakan demokrasi‘, saya terlebih dahulu bertemu beliau sebagai ayah sahabat saya. Tanggal 7 Februari 2015, saya main ke rumah beliau pertama kalinya setelah perjalanan akhir pekan singkat ke Bandung dengan Wikan. Saat itu, saya baru belajar bahwa mereka adalah keluarga Sudjojono, salah satu maestro pelukis kiri di masa revolusi. (Meski Bapak tidak terlalu suka membawa nama Sudjojono, karena dia ‘manusianya sendiri’.) Lantas ketika melihat beberapa lukisan di dinding rumah, saya langsung berasumsi semua lukisan Sudjojono.

“Mbak, yang ini lukisannya seharga 6 milyar lho!” kata Bapak (begitu keluarga beliau memanggilnya, dan kemudian saya pula) sambil menunjuk gambar burung bertanggar di pohon dengan latar belakang langit. Saya berekspresi kaget tapi tidak berkomentar apa-apa. Bapak seperti menikmati kegagapan saya. Kemudian dia tertawa sendiri. “Nggak ding, itu corat-coret Wikan aja! Paling nggak ada harganya, hahaha!”

Baru nanti saya sadar bahwa itu cuma satu dari daftar tak berujung kelakar dan kejahilan Bapak.

Di hari yang sama itu, saya mengagumi koleksi rak buku Bapak yang menjulang sampai ke langit-langit rumah mereka yang tidak besar. Saya bisa merasakan buku-buku adalah harta berharga bagi Bapak—mulai dari buku tentang sejarah, pelukis-pelukis Renaissance, sampai pasar karbon (kata Wikan, saat SMP Bapak suruh Wikan baca buku itu). Saya lupa apakah di hari yang sama atau pada kunjungan selanjutnya, Bapak meminjamkan saya buku Benedict Anderson, Java In a Time of Revolution. Buku itu saya bawa dalam perjalanan kerja sampai ke Bandung, dan sampai hari ini masih bertengger di rak buku rumah. Sekarang siapa yang berhasil mengecohmu, Pak!

Saya yang terbiasa beroperasi lewat struktur dan efisiensi di atas segalanya, pelan-pelan terserap ke dalam dunia seni dan perjuangan yang kental dalam darah keluarga Bapak. Beberapa kali saya bersama Wikan menemani Bapak dan Ibu ke acara-acara kesenian, demokrasi, atau berhubungan dengan HAM. Dari Taman Ismail Marzuki sampai Salihara. Muka Bapak selalu berbinar kalau bertemu dengan teman-teman seperjuangannya. Saat peluncuran buku Eyang Mia, Sudjojono dan Aku (yang menjadi inspirasi judul tulisan ini), Bapak tuliskan di halaman pertamanya, “Mbak Afu, kita saling belajar. Salam, Tedjabayu.”

Di salah satu perjalanan mengantar Bapak pulang, saya sempat bilang, “Duh, mobilnya perlu di-balance ini nggak lurus.” Bapak balas, “Oh ya, seperti apa?” Lalu saya contohkan lepas stir sebentar. Bapak bilang, “Oh nggak perlu. Ini memang mobilnya Kiri!” Selentingan-selentingan seperti ini yang sepertinya akan sangat saya rindukan.

Dari waktu ke waktu, terutama kalau sedang menunggu di Kedai Sagam (yang hilang setahun ini karena pandemi), Bapak akan bercerita tentang pengalamannya sebagai tahanan politik dari penjara ke penjara selama 14 tahun, sampai terakhir di Pulau Buru. Yang mengherankan, Bapak tidak pernah terdengar marah. Di balik semua ketidakadilan dan kekejaman Orde Baru, Bapak masih bisa menemukan kemanusiaan, dan kelakar—yang kadang sangat gelap, tapi tetap menggelitik. Saya ingat pernah panik karena merasa cerita ini terlalu berharga kalau hanya saya dan sedikit orang yang tahu. Untungnya, di tahun 2020 kemarin, Bapak berhasil merampungkan memoir-nya sebagai penyintas, Mutiara di Padang Ilalang.

Sekarang lebih banyak orang bisa mengetahui kenyataan sejarah dari perspektif Bapak.

Tapi lebih dari semuanya, salah satu yang paling saya kagumi adalah cintanya Bapak kepada Ibu. One of the purest, rarest things. Bapak Tedjabayu dan Ibu Tuti Pujiarti menikah selama lebih dari 35 tahun. Mereka sebenar-benarnya teman hidup, saling menyayangi dan menjaga satu sama lain setiap hari, melewati berbagai kesulitan bersama-sama. Ketika anak-menantunya kadang kritis terhadap keputusan Ibu, Bapak akan melindungi Ibu tanpa syarat. Begitu pula Ibu, semua dikorbankan untuk menjaga Bapak, untuk menyenangkan Bapak, sampai hari terakhirnya. Seminggu ke belakang saat badan Bapak sudah mulai lemah, tangan yang Bapak genggam terus tanpa mau lepas adalah tangan Ibu. Ketika mobil kami perlahan meninggalkan taman pemakaman umum di mana Bapak dikuburkan, kalimat yang Ibu bisikkan adalah, “I love you.”

Setelah terjadi pendarahan otak di tahun 2003, pihak rumah sakit bilang bahwa hidup Bapak hanya tinggal 2-3 tahun lagi. Kalau prediksi tersebut benar, maka saya tidak akan sempat kenal dengan sosok Bapak. Wikan suka bercanda bahwa saya adalah kesayangan Bapak dari semua mantan-mantan Wikan yang lain. Wikan bilang, Bapak suka ngobrol sama saya yang pintar. Kami berdua bersyukur saya bisa bertemu Bapak, bahwa Bapak bisa hadir di hari pernikahan kami, dan seterusnya meski banyak kangen yang tidak selalu bisa dipenuhi.

Kalau berusaha mengingat Bapak, saya ingat Bapak yang sedang mengikat sepatunya sendiri sambil duduk di lantai, yang menolak kalau kami tawarkan untuk bawakan tas berisi laptop kesayangannya karena tidak suka merepotkan orang. Bapak yang sering mengirim lelucon forwardan grup sebelah melalui WhatsApp. Bapak yang sayang dengan cucu-cucunya, Bapak yang tersenyum atau ngakak karena geli dengan lelucon sendiri.

Bapak had had a full life, with no regrets. Bapak adalah definisi berjuang sebaik-baiknya. Ketika Orde Baru seenaknya, Bapak sebagai mahasiswa turun ke jalan. Ketika akhirnya keluar dari penjara, Bapak mencintai Ibu dan anak-cucunya dengan sebaik-baiknya. Bapak tidak pernah mengeluh, atau bersedih atas semua yang telah terjadi pada Bapak, tapi malah mengajarkan kami semua untuk menemukan lelucon dari tempat tergelap sekalipun.

Saya tahu Bapak suka membaca, jadi saya tuliskan ini untuk Bapak baca dari rumah baru di sana. Saya mau minta maaf karena belum bisa bertemu Bapak lagi setelah terakhir mengantar Bapak pulang dari rumah Cinere, sampai Bapak menghembuskan nafas terakhir. Pandemi sialan. Tapi saya tahu Bapak tidak akan mau kami penuh benci dan penyesalan, jadi kami coba untuk mengikhlaskan.

Salam ambung, Pak. Kami sayang Bapak.

Cinere, 26 Februari 2021

3 Comments

  1. Terimakasih Kak Afu sudah menuliskan ini. Memberikan kesempatan pada kita untuk membaca sebuah perjalanan berharga yg pernah ada di bumi ini. Aku mengikuti kisah ini dari pertama kali kak Afu update foto lemari buku Bapak. Semoga Bapak diberikan tempat terbaik di sisiNya.

    Reply

  2. Sedih, haru sekaligus indah. Semoga keluarga yang ditinggalkan tabah dan diberikan kesabaran. Terima kasih telah menuliskan ini kak Afu.

    Reply

Leave a Reply to Memoar Tedjabayu : Mutiara di Padang Ilalang – Cerita Seorang Penyintas – Perpustakaan Online Genosida 1965-1966 Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s